Sesungguhnya apa makna rahina Kajeng Kliwon yang dikatakan menyeramkan oleh masyarakat Bali? Konon rahina ini digunakan untuk Belajar ilmu pengeleakan!.
Daftar Isi
Apa Makna Rahina Kajeng Kliwon?

Dalam pusaran kehidupan modern Bali, masih terjalin erat harmoni dengan tradisi dan kepercayaan nenek moyang. Salah satu wujudnya adalah konsep “rahina”, hari-hari istimewa dalam kalender Bali yang sarat makna dan ritual. Di antara sekian banyak rahina, Rahina Kajeng Kliwon ditemui dengan binar mata penuh hormat dan sedikit gurat kewaspadaan.
Kajeng Kliwon jatuh setiap 15 hari sekali dalam penanggalan Saka, bertepatan dengan pertemuan hari Rabu dan pasaran Kliwon. Hari ini diyakini memiliki dua sisi yang saling berkelindan: kesakralan dan kewaspadaan. Konon rahina kajeng kliwon digunakan untuk Belajar ilmu pengeleakan. Bagi sebagian orang, Kajeng Kliwon dipercaya waktu yang tepat untuk mempelajari ilmu-ilmu tertentu, seperti pengobatan tradisional atau “pengeleakan” (ilmu gaib).
Makna Rahina Kajeng Kliwon

- Pemujaan Sang Hyang Siwa: Umat Hindu Bali percaya Kajeng Kliwon adalah hari “ngembak geni”, artinya api sedang padam. Pada hari ini, Dewa Siwa, manifestasi Tuhan dalam aspek penghancur dan penyucian, sedang bersemedi dalam keheningan agung.
- Melaksanakan upacara Dewa Yadnya: Hari ini dimanfaatkan untuk menggelar upacara seperti “Bhuta Yadnya” dan “Manusa Yadnya”. Bhuta Yadnya bertujuan menyeimbangkan kekuatan alam dan bhutakala (makhluk halus), sedangkan Manusa Yadnya berupa penyucian diri serta penguatan harmoni sosial.
- Penyucian diri dan lingkungan: Umat Hindu dianjurkan melakukan brata, pantangan dan pengendalian diri, serta melaksanakan pembersihan rumah dan lingkungan sekitar.
Kesakralan Rahina Kajeng Kliwon:

- Hari turunnya bhuta: Dipercaya kekuatan negatif, termasuk bhuta dan ilmu hitam, lebih mudah muncul pada Kajeng Kliwon.
- Berlaku hati-hati: Masyarakat Bali dianjurkan bersikap waspada, menghindari bepergian jauh, dan tidak mengadakan keramaian.
- Melakukan penolak keburukan: Upacara sederhana seperti “mecaru” atau “ngelukat” dilakukan untuk menangkal pengaruh negatif.
Rahina Kajeng Kliwon bukanlah hari yang ditakuti, melainkan hari untuk kembali mengingat keseimbangan alam dan kekuatan batin. Dengan memahami dan menghormati makna di baliknya, kita dapat melestarikan warisan budaya Bali sekaligus belajar hidup selaras dengan alam dan kekuatan tak kasat mata.

KOMENTAR