Perang Pandan Desa Tenganan telah berlangsung dari dulu dan merupakan salah satu daya tarik wisata yang memiliki fakta tentang keunikannya.
Daftar Isi
Tradisi Perang Pandan Desa Tenganan

Perang Pandan Desa Tenganan adalah sebuah tradisi unik yang berasal dari Desa Tenganan, Kecamatan Karangasem, Bali. Perang pandan merupakan bentuk penghormatan kepada Dewa Indra, dewa perang dalam kepercayaan Hindu Bali. Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan merupakan salah satu daya tarik wisata di Bali.
Sejarah Perang Pandan Desa Tenganan
Di masa lampau, Desa Tenganan dipimpin oleh seorang raja kejam bernama Maya Denawa, yang menganggap dirinya sebagai Dewa. Selain klaim sebagai Dewa, Maya Denawa melarang penduduk Tenganan untuk melaksanakan ritual keagamaan. Keangkuhan Maya Denawa sebagai Dewa menyulut kemarahan para Dewa, sehingga Dewa Indra diutus untuk menghadapi Maya Denawa. Dalam pertempuran antara keduanya, Dewa Indra keluar sebagai pemenang.
Perang antara Maya Denawa dan Dewa Indra yang dimenangkan oleh Dewa Indra sekarang diperingati oleh masyarakat Desa Tenganan melalui upacara perang pandan. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan kepada Dewa Indra, yang dianggap sebagai Dewa perang dalam agama mereka. Upacara perang pandan menjadi sebuah tradisi yang diwariskan, menggambarkan pengabdian masyarakat Tenganan terhadap kepercayaan dan sejarah.
Tempat

Pelaksanaan upacara perang pandan di Desa Tenganan, salah satu desa tertua di pulau Bali. Desa ini memiliki ciri khas karena dikelilingi oleh bukit yang menyerupai benteng. Ritual perang pandan diadakan di depan balai pertemuan desa Tenganan.
Waktu Pelaksanaan
Upacara perang pandan Desa Tenganan dilaksanakan setiap bulan kelima atau sasih kalima dalam penanggalan desa adat mereka. Ritual ini berlangsung selama sekitar dua hari berturut-turut dan diadakan sekali dalam setahun. Dalam perang pandan ini, para peserta terlibat dalam pertarungan dengan menggunakan daun pandan, menciptakan suasana yang unik dan penuh tradisi di desa ini.
Senjata Perang
Tradisi perang pandan menggunakan pandan berduri senjata utama dalam pertarungan. Pandan berduri yang digunakan diikat sedemikian rupa sehingga membentuk bentuk mirip gada. Para peserta perang pandan juga dilengkapi dengan sebuah tameng yang berfungsi sebagai alat perlindungan dari serangan lawan.
Peserta

Perang pandan melibatkan partisipasi pemuda dari dalam dan luar Desa Tenganan. Pemuda dari dalam desa berperan sebagai peserta utama dalam pertarungan pandan, sementara pemuda dari luar desa berperan sebagai peserta pendukung. Dalam tradisi ini, anak-anak yang telah memasuki usia remaja juga turut ambil bagian, menunjukkan keterlibatan mereka dalam upacara tersebut.
Pakaian
Peserta Perang Pandan menggunakan kamen, selendang serta udeng, Menariknya, Pemuda yang menjadi peserta perang pandan tidak mengenakan baju, sehingga mereka tampil bertelanjang dada selama pelaksanaan upacara ini

KOMENTAR