Rahina tumpek wariga merupakan ungkapan rasa syukur yang tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, atas anugerah kesuburan alam semesta.
Daftar Isi
Rahina Tumpek Wariga

Bali, pulau dewata yang kaya akan budaya dan tradisi, memiliki hari-hari khusus untuk berbagai perayaan dan penyucian. Di antara sekian banyak perayaan, salah satunya yang sarat makna adalah Tumpek Wariga. Disebut juga Tumpek Pengatag, Tumpek Pengarah, Tumpek Uduh, atau Tumpek Bubuh, hari raya ini jatuh setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga.
Mengenal Tumpek Wariga

Inti perayaannya adalah ungkapan rasa syukur yang tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, atas anugerah kesuburan alam semesta. Tumbuhan yang bertunas, berbunga, dan berbuah memberikan kehidupan bagi manusia, dan Tumpek Wariga menjadi momen untuk menghargai serta memelihara keharmonisan ini.
Makna Rahina Tumpek Wariga

Dalam ajaran Hindu, Ida Sang Hyang Widhi Wasa memiliki berbagai manifestasi, dan pada Tumpek Wariga, umat Hindu memuja-Nya sebagai Dewa Sangkara, Dewa tumbuhan dan segala isinya. Persembahan berupa banten yang ditujukan kepada tumbuh-tumbuhan
Tumpek Wariga dan Tri Hita Karana:
Perayaan Tumpek Wariga juga merupakan perwujudan nyata dari Tri Hita Karana, konsep harmoni dalam Hindu yang meliputi hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan dirinya sendiri (Manusa), dan manusia dengan alam (Niskala).

KOMENTAR