HomeTradisiBudaya

Di Balik Upacara Sapuh Leger: Kisah Dewa Kumara dan Kutukan Bhatara Kala

Di Balik Upacara Sapuh Leger: Kisah Dewa Kumara dan Kutukan Bhatara Kala

Kisah Upacara Sapuh Leger mulai dari Kutukan Dewa Siwa hongga Dewa Kumara yang bersembunyi di berbagai tempat namun Bhatara Kala selalu bisa menemukannya.

Wisata Pantai Lovina, Melihat Aksi Lumba-Lumba yang Tak Terlupakan
Makna Rahina Saraswati di Bali: Penghormatan Dewi Ilmu Pengetahuan

Kisah Upacara Sapuh Leger

Kisah Sapuh Leger
Kisah Sapuh Leger pada Tumpek Wayang

Dikisahkan Dewa Siwa dan Dewi Parwati mempunyai dua putra. Putra pertama bernama Bhatara Kala, sedangkan putra kedua bernama Dewa Kumara.

Bhatara Kala lahir pada hari “tumpek wayang”, dan adiknya yaitu Dewa Kumara juga lahir pada hari yang sama “tumpek wayang”. Sehingga Bhatara Kala boleh memakan adiknya jika nanti adiknya sudah besar. Dewa Siwa mengetahui hal ini dan Dewa Siwa pun menganugerahi Dewa Kumara agar selamanya menjadi anak-anak.

Namun ternyata hal tersebut diketahui oleh Bhatara Kala sehingga Bhatara Kala melakukan pengejaran terhadap Dewa Kumara. Karena dikejar Dewa Kumara akhirnya melarikan diri ke bumi untuk bersembunyi.

Dalam pelariannya, Dewa Kumara bersembunyi di berbagai tempat. Ia pernah bersembunyi di gulungan alang-alang, tumpukan kayu bakar, dan dapur. Namun, Bhatara Kala selalu bisa menemukannya.

Karena kesal, Bhatara Kala mengutuk orang-orang yang tidak melepas tali alang-alang, tidak melepas tali kayu bakar, dan tidak menutup lubang tungku. Kutukan ini bertujuan agar manusia selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu.

Akhir Kisah Upacara Sapuh Leger

Kisah pengeruwatan wayang sapuh leger
Kisah pengeruwatan wayang sapuh leger

Akhirnya, Bhatara Kala kelelahan setelah lama mengejar Dewa Kumara. Ia menemukan sesajen yang dihaturkan oleh Sang Mangku Dalang. Karena lapar dan haus, Bhatara Kala memakan semua sesajen tersebut.

Sang Mangku Dalang pun meminta agar Bhatara Kala memuntahkan kembali semua sesajen yang telah dimakannya. Bhatara Kala pun berjanji tidak akan memakan orang yang lahir pada wuku Wayang, jika sudah menghaturkan sesajen menggelar wayang “sapuh leger”.

Dan sampai sekarang, orang-orang Bali yang lahir pada wuku Wayang selalu memohon tirtha pengeruwatan wayang sapuh leger pada hari Tumpek Wayang.

@baliluhur.id

KOMENTAR