Memahami sejarah sad kahyangan di Bali dan keberadaan pura-pura ini menjadi bukti kekayaan budaya dan spiritualitas Bali yang telah terjaga selama berabad-abad.
Daftar Isi
Kisah Sejarah Sad Kahyangan di Bali

Sad Kahyangan, yang berarti “enam tempat suci”, merupakan sebutan untuk enam pura utama di Bali yang memiliki peran penting dalam kosmologi dan spiritualitas Hindu Bali. Pura-pura ini diyakini sebagai tempat berstana para dewa-dewi yang menjaga keseimbangan alam semesta dan melindungi Pulau Dewata.
Sejarah Sad Kahyangan di Bali terjalin erat dengan perjalanan agama Hindu di Bali. Dipercaya bahwa pura-pura ini telah ada sejak abad ke-10, didirikan oleh para leluhur Hindu Bali sebagai bentuk penghormatan kepada dewa-dewi dan untuk menjaga keharmonisan alam semesta.
Daftar Pura Sad Kahyangan di Bali

Berikut adalah enam pura yang termasuk Sad Kahyangan beserta lokasi pura puranya di Bali:
- Pura Besakih: Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
- Pura Lempuyang Luhur: Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem.
- Pura Goa Lawah: Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.
- Pura Uluwatu: Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
- Pura Batukaru: Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.
- Pura Pusering Jagat: Desa Pejeng Kawan, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.
Sad Kahyangan menjadi pusat berbagai ritual dan upacara keagamaan Hindu di Bali. Umat Hindu dari seluruh penjuru pulau datang ke pura-pura ini untuk melakukan persembahyangan, memohon keselamatan, dan mengucap syukur.
Pura Sad Kahyangan Sebagai Tempat Suci

Sad Kahyangan bukan hanya tempat suci bagi umat Hindu, tetapi juga merupakan bagian penting dari budaya dan tradisi Bali. Keberadaan pura-pura ini menjadi bukti kekayaan budaya dan spiritualitas Bali yang telah terjaga selama berabad-abad.

KOMENTAR